Friday, September 12, 2014

DIA... TIGA BELAS TAHUN YANG LALU

NOTE: KOSAH YANG DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT CINTA PERTAMA YANG DISELENGGARAKAN OLEH EMBART NUGROHO


DIA… TIGA BELAS TAHUN YANG LALU
Oleh: Veronica Faradilla
SDN 09 Pagi. Jakarta. 2000.
“Radith, aku sukaaa sama kamu!” teriakku keras-keras di tengah lapangan sekolah.
Laki-laki bernama Radith yang sedang asyik bermain bola langsung menghentikan aksinya. Dia menoleh terkejut, mencari-cari sumber suara. Aku dapat melihat raut wajahnya yang berubah pucat pasi seperti sehelai kertas HVS. Ketika dia menemukan si pelontar kalimat, yakni diriku, dia langsung kabur menjauhiku. Mungkin dia malu. Mungkin juga dia kesal karena aku mampu berbuat senekat itu. Atau mungkin juga dia takut kepadaku.
Aku tidak tahu apa yang Radith rasakan. Yang aku tahu, sejak saat itu Radith tidak pernah mau menegurku. Dia berusaha mencari kutub yang berlawanan denganku. Jika aku berada di Utara, maka dia akan pergi ke Selatan. Jika aku menyusulnya ke Selatan, maka dia akan bergegas ke Utara. Begitu seterusnya. Seluruh perilakunya membuatku merasa semakin jauh darinya. Bahkan untuk berteman pun, sepertinya dia sudah tidak mau lagi. Aku sangat sedih. Radith Adidharman (nama samaran) adalah cinta pertamaku tiga belas tahun yang lalu. Cinta pertamaku pada pagi yang masih ingusan.
SDN 09 Pagi. Jakarta. 1997
Radith adalah teman sekelasku. Kami pernah duduk sebangku saat kami tengah mengejar ilmu di kelas tiga. Awalnya aku tidak begitu menyukainya. Dia adalah pribadi yang jahil dan pem-bully.  Banyak tingkah lakunya yang membuatku kesal setengah mati. Salah satunya adalah: Ketika aku sedang asyik menulis, dia selalu merebut pulpenku lalu membuangnya ke luar jendela kelas.
“Radiiiith,” keluhku, “cepetan ambilin!”
Radith hanya menjulurkan lidahnya.
“Ambilin dooong! Aku kan jadi nggak bisa nulis!”
“Bodo amat!” sahut Radith acuh. Tingkahnya sangat menyebalkan, membuatku semakin gemas kepadanya.
Aku mencubit lengannya keras-keras.
“Aduuuh!” seru Radith. Dia sibuk mengusap-usap kulit lengannya yang memerah.
“Syukurin!” Kini giliranku menjulurkan lidah kepadanya.
Balas dendam yang sempurna, batinku kala itu.
Keributan antara aku dan Radith rupanya memancing perhatian Bu Anna, wali kelas kami. Alih-alih melerai pertengkaran kami, Bu Anna malah memperparah kondisinya dengan memerintahkanku dan Radith untuk berdiri di depan kelas. Aku semakin marah kepada Radith. Bayangkan saja, dia membuatku malu karena dihukum di hadapan teman-teman sekelasku. Ada yang menggoda kami, ada yang mengejek, ada pula yang menertawakan kami. Semua ini terjadi gara-gara Radith. Andai saja dia tidak membuang pulpenku, maka aku tidak perlu dihukum di depan kelas. Namun sepertinya Radith tidak peduli. Dia malah terlihat menikmati diriku yang tengah dihukum bersamanya. Sungguh, aku semakin membenci Radith. Radith tetaplah Radith. Sosok yang super duper menyebalkan!
            Pada pagi yang lain, Radith pernah diam-diam menaruh permen karet di bangkuku. Aku yang baru saja masuk ke dalam kelas, tidak tahu apa yang baru saja dilakukan oleh Radith. Tanpa beban, aku segera duduk dibangkuku. Saat itulah aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di bagian belakang rokku. Spontan saja aku meraba rokku. Astaga, permen karet itu sudah menempel pada rokku, dan sulit untuk dilepaskan. Rokku menjadi sangat kotor dan lengket.
            “Duuuuhhhh, Radiiiiiittthhh!!!! Bu Guruuuuuuuuu!!!” jeritku kesal. Setengah mati aku menahan air mataku.
Radith tetaplah Radith. Sosok yang super duper menyebalkan. Semakin aku menunjukkan perasaan kesalku kepadanya, dia justru semakin meningkatkan level kejahilannya terhadapku. Dia sering menyembunyikan tasku, bekal makananku, bahkan seragam olahragaku. Seiring berjalannya waktu, aku merasa terbiasa dengan ulah usil Radith. Jika Radith tidak menjahiliku, maka aku merasa ada yang kurang.
SDN 09 Pagi. Jakarta. 2000
Tahun ini aku resmi duduk di bangku kelas enam. Tentunya bersama Radith. Dari kelas satu hingga kelas enam kami selalu sekelas. Di sekolah kami memang tidak pernah ada pergantian teman-teman sekelas. Hanya saja setiap enam bulan sekali, selalu ada rotasi pergantian teman-teman sebangku. Aku duduk sendiri, di bangku ke dua dari belakang. Sedangkan Radith duduk di bangku ketiga dari depan, pada barisan bangku di sebelahku. Meskipun aku tidak sebangku lagi dengannya, namun aku masih mampu melihat punggung Radith dengan jelas dari tempat dudukku.
Beberapa tahun belakangan, aku melihat sesuatu yang berbeda dari diri Radith. Radith berubah menjadi pendiam, namun semakin berprestasi. Entah apa yang menyebabkannya seperti itu. Tetapi benar juga kata pepatah, bahwa semakin berisi, padi akan semakin menunduk. Begitulah Radith.
Diam-diam aku menjadi tertarik dengan Radith. Aku sering mengamati Radith dari belakang. Aku berusaha mencari celah untuk mendekatinya dengan berbagai alasan. Alasan yang sangat dibuat-buat tentunya. Contohnya aku berpura-pura kehilangan pulpenku, lalu mencoba meminjam darinya. Aku sering membagi bekalku kepadanya. Aku juga sering minta tolong untuk diajarkan mata pelajaran yang sebenarnya sudah kumengerti. Intinya, aku berusaha selalu “ada” di setiap sudut pandang matanya.
“Kamu naksir banget ya sama Radith?” tanya Mitha, temanku.
Aku terkejut. “Nggak kok!”
“Nggak usah bohong deh. Pedekate kamu tuh kelihatan banget, tahu!” tukas Mitha.
Ucapan Mitha bagaikan halilintar di telingaku. Spontan saja aku menjadi khawatir. Benarkah? Mitha yang bukan teman dekatku saja menyadari perasaanku, apalagi Radith.
Mitha duduk di dekatku, berusaha mengorek-ngorek informasi dariku. “Kok kamu bisa naksir sih sama Radith?”
Aku diam saja. Pertanyaan Mitha seakan-akan meragukan bahwa Radith mempunyai “kelebihan” yang membuat dirinya ditaksir oleh orang lain. Radith memang bukanlah laki-laki yang elok fisiknya, ataupun populer. Radith bertubuh pendek, kurus, berkulit sawo matang, dan bergigi kelinci. Tidak ada bagus-bagusnya. Tetapi apakah cinta hanya boleh diberikan kepada orang yang elok fisiknya saja?
“Pasti gara-gara dia selalu rangking satu terus ya?” goda Mitha sembari tertawa keras. “Kamu suka cowok kayak gitu toooh! Yang kelihatannya coolcool gimanaaa gitu!”
Aku menggaruk-garuk kepalaku. Salah tingkah! Mungkin celetukan Mitha yang satu ini ada benarnya. Aku memang suka laki-laki yang pintar dan pendiam. Kebetulan, Radith memenuhi kriteria itu.
“Tembak aja!”
Aku terkejut mendengar usul Mitha. “Idiiih, ngomong apaan sih kamu, Mitha! Nggak usah aneh-aneh deh.”
“Loh kok aneh-aneh sih? Aku serius. Radith itu juga kelihatannya suka kok sama kamu.”
“Kamu tahu dari mana?” tanyaku.
“Insting aja.”
Aku kembali diam.
“Percaya deh, instingku nggak pernah salah. Aku lihat Radith juga suka kok sama kamu, cuma dia malu buat ngungkapinnya. Makanya, harus kamu dong yang ambil langkah duluan. Lagian kan sayang kalau kalian sama-sama suka, tapi sama-sama nyembunyiin.”
Aku tergoda oleh ucapan Mitha. Sebenarnya aku ingin sekali menjadi pacar Radith. Cinta ini benar-benar menggebu-gebu di dadaku. Radith adalah alasanku berani berbuat hal-hal di luar kebiasaanku.
“Tembak sekarang!” tukas Mitha. Kemudian Mitha menunjuk sesosok laki-laki yang sedang asyik berlari-lari mengejar bola. Peluh membasahi seragam olahraga laki-laki itu. “Tuuuh dia lagi main bola. Panjang umur kan? Ayo, cepetan tembak! Jangan ragu-ragu!”
Aku mendadak kelu. Haruskah aku mengungkapkan perasaan cintaku kepada Radith?
“Ayo dong, Ver!” bujuk Mitha sekali lagi.
Seperti terkena hipnotis, aku mulai melangkah menghampiri lapangan sekolah. Mataku hanya tertumbuk pada sosok Radith. Aku tidak memerhatikan teman-teman sekelasku yang lain yang juga sedang asyik bermain bola. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu memejamkan mata.
“Radith, aku sukaaa sama kamuuu!!!” teriakku sekuat tenaga.
Aku masih mengingat detail bagaimana suasana riuh lapangan berubah menjadi hening. Aku membuka mataku, melihat Radith menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari siapa yang telah mengatakan cinta kepadanya. Kemudian kedua bola matanya tertuju kepadaku. Wajah radith berubah menjadi pucat. Radith kabur. Ya, dia pergi begitu saja meninggalkanku di tengah lapangan.
Sorak sorai pecah mengerumuniku. Teman-teman sekelasku baik laki-laki maupun perempuan datang mengelilingiku.
“Cieee Veroooo… Cieeee!” goda mereka.
“Naksir Radith nih yeee!!!” timpal yang lain.
“Tapi Radith kabur tuh! Kejar dong, Ver!”
Satu persatu suara mereka menembusi telingaku, membuatku sadar bahwa insting Mitha salah. Radith tidak naksir kepadaku. Jika dia juga suka kepadaku, dia tidak akan setakut itu.
Ketika suara-suara godaan dan ejekan sudah mulai melemah, teman-teman perempuanku (tidak termasuk Mitha) datang lalu mengajakku ke pojok sekolah. Rupanya mereka semua juga menyaksikan aksi penembakan bodoh yang telah kulakukan. Aku tidak sempat memerhatikan siapa saja yang ada di lapangan saat itu. Mudah-mudahan saja tidak ada guru.
“Gila kamu Ver, nekat banget!” seru Rahma, sahabatku.
“Habisnya aku disuruh Mitha buat nembak Radith,” kilahku.
“Kok mau sih?” tanya Kiki.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Yang pasti aku menyesal karena termakan ucapan Mitha. Aku sadar bahwa aku sangat gegabah. Waktu tidak bisa diputar ulang. Aku tidak mempunyai kekuatan untuk membuat seluruh teman-temanku dan juga Radith menjadi amnesia, lalu melupakah peristiwa memalukan di lapangan sekolah. Apa yang harus kulakukan saat aku masuk ke dalam kelas nanti?
“Kalo kamu disuruh makan daun sama Mitha, jangan-jangan kamu nurut juga!”  timpal Rahma.
Sahabat-sahabatku benar-benar baik. Mereka mengingatkanku bahwa tindakanku itu sangat sangat sangat bodoh. Mereka benar-benar baik dengan menekan mentalku terus-terusan.
Akhirnya bel berdentang. Namun bel sekolah hari ini terdengar seperti suara ambulans yang sedang mengangkut mayat. Begitu menyeramkan, menghunus gendang telingaku. Benar saja, saat aku melangkah memasuki kelas, teman-teman sekelasku kembali ramai menggodaku dan Radith. Aku melirik Radith. Aku dapat menangkap ekspresi kesal pada wajahnya.
Aku tahu, gara-gara aku, kini Radith ikut terseret dalam masalah ini. Radith ikut-ikutan diejek dan dipaksa oleh teman-teman sekelasku untuk jadian denganku. Namun cinta tidak dapat dipaksakan, bukan? Aku merasakan pahitnya penolakan cinta saat itu juga. Tidak ada kenangan manis saat SD. Mirisnya, cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan.
***
Aku mengunjungi rumah asri dengan pagar   berwarna hijau. Aku memandangi sekeliling rumah yang sepi tersebut. Meskipun begitu aku tahu penghuninya ada di dalam. Rumah ini sudah tidak asing lagi. Aku selalu ke sini setiap hari dengan sebuah maksud yang sulit kuungkapkan. Ini adalah rumah Radith.
Setiap hari aku melatih diriku di depan cermin untuk meminta maaf kepada Radith, dan memintanya untuk melupakan peristiwa penembakan itu. Aku ingin memohon kepadanya agar bertingkah biasa saja di hadapanku. Tidak usah menghindariku seperti aku adalah monster yang akan memangsa anak-anak kecil. Aku ingin dapat menjalin persahabatan dengannya, tanpa ada embel-embel cinta. Namun saat aku sudah tiba di depan pagar rumah Radith, seluruh kata-kata tersebut buyar menjadi debu.
“Loh, Vero,” sapa seseorang.
Aku mendongak dan melihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri di balik pagar sembari memegang selang air. Ibu Radith.
“Eh T-Tante,” sahutku setengah gelagapan. Aku tidak menyangka bahwa Ibu Radith ada di balik pagar rumahnya. Apakah dia melihatku berdiri di depan rumahnya sejak tadi? Jika iya, kacaulah semuanya.
Ibu Radith membuka pagar. Wajahnya ramah. Senyum lebar terkembang dari bibirnya yang tebal. Aura hangat dipancarkan oleh wanita ini. Berbeda sekali dengan Radith. Radith selalu memasang wajah dingin dan ketus jika sedang berpapasan denganku.
“Dari tadi ya?” tanya Ibu Radith.
Dari nada suaranya aku yakin bahwa Ibu Radith baru menyadari kehadiranku. Aku buru-buru menggeleng.
“Cari Radith ya?”
Aku  kembali menggeleng.
“Masuk yuk. Radith ada kok di dalam, lagi baca buku.”
“Nggak, Bu. Makasih. Aku pergi dulu yaaa.” Tanpa basa-basi lagi aku segera pergi meninggalkan Ibu Radith yang sedang keheranan. Aku menarik nafas panjang. Aku tahu aku tidak mungkin berani mengajak Radith untuk berbicara berdua saja. Radith sudah menganggapku musuh, dan memilih untuk menghindariku.
***

Januari. Bandung. 2013
Sang Pria dan sang wanita berjalan berdampingan dalam balutan pakaian putih-putih. Langkah kaki mereka begitu mantap menjejaki karpet merah di tengah ruangan. Hingar bingar iringan musik berpadu apik dengan iringan keluarga, memberikan suasana meriah bagi sang raja dan ratu sehari. Sang wanita melingkarkan tangannya semakin erat saja pada lengan sang pria. Senyum serta sorot mata kedamaian terlihat menghiasi raut wajah mereka, meskipun peluh terlihat menghiasi pelipis mereka berdua.
Mataku tertuju pada sang pria. Pria itu terlihat gagah dan sangat bahagia. Ah, tidak. Aku sangat iri melihatnya, karena yang berada di sisi pria itu bukan aku, melainkan wanita teman kuliah pria itu. Pria itu menoleh kepada sang wanita, lalu tersenyum manis. Mereka kembali berjalan menuju singgasana yang telah disiapkan khusus untuk mereka.
Ya, aku sedang menghadiri acara pernikahan Radith, cinta pertamaku. Betapa Radith terlihat berkilau di pelaminan itu. Acara-acara dilanjutkan oleh sambutan-sambutan dari para keluarga, rekan, dan sahabat.
“Silahkan untuk sang mempelai pria untuk menyampaikan sepatah atau dua patah kata kepada para tamu undangan,” tukas MC membuatku mendongak seketika. Apakah ini berarti bahwa Radith diundang untuk berbicara?
Radith berdiri lalu menyambut microfon yang diberikan oleh MC. Radith melemparkan senyum kepada seisi ruangan di gedung itu.
“Selamat siang semua. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk seluruh keluarga yang membantu hingga terlaksananya acara ini. Saya juga berterima kasih kepada tamu undangan yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk datang ke acara pernikahanku dan Lila.” Radith melirik Lila. “Betapa saya beruntung telah mengenalnya, hingga akhirnya memilikinya.”
Tiba-tiba salah seorang tamu melontarkan celetuk, “Ceritain dong gimana awal pertemuan dengan Lila!”
Aku menegakkan telingaku. Pertanyaan itu pula yang selama ini menggema di dalam lorong-lorong hidupku.
“Aku dan Lila saling mengenal sudah lama. Dia adalah tetanggaku. Lalu kami bertemu secara tidak sengaja di kampus. Rupanya dia satu jurusan denganku. Sejak saat itu kami sering menghabiskan waktu bersama, lalu berpacaran. Kami menjalin hubungan tidak begitu lama. Hanya satu tahun berpacaran. Lalu kami merasa sama-sama cocok, kami memutuskan untuk menikah. Memang sih kesannya terburu-buru. Tapi bagiku tidak masalah. Aku mencintainya, dan yakin ingin menua bersama dengannya.”
Aku menunduk. Ada genangan hangat yang hendak menyeruak ke luar dari mataku. Aku terlalu sakit hati untuk mendengar kelanjutan cerita Radith. Maka aku memutuskan untuk keluar dari gedung itu. Sudah tidak ada lagi harapan. Meskipun begitu aku tidak pernah menyesal menjadikan Radith sebagai cinta pertamaku. Happy wedding, Radith. Selamat menempuh hidup baru. *** (vf)

Invite my Path:
Veronica Faradilla

TIYANAK, CINTA YANG TERKUBUR DI DAVAO CITY

Note: Cerpen yang diikutsertakan dalam lomba #hororkotadunia kampusfiksi DivaPress


TIYANAK, CINTA YANG TERKUBUR DI DAVAO CITY
Oleh: Veronica Faradilla
            Davao, Mindanao. Filipina, 2010.
            Sudah sejak sore rumah sakit yang terletak di Davao city itu terlihat dingin dan sepi. Pada sudut-sudut lorong hanya terdapat beberapa orang suster yang hilir mudik.  Sedangkan beberapa orang keluarga pasien duduk terkantuk-kantuk di dalam ruang tunggu. Sayup-sayup suara televisi terdengar dari ruang tunggu. Selebihnya, sunyi. Keheningan memancar, membuat rumah sakit itu menebarkan aura suram dan mati.
Hanya ada satu ruangan yang terlihat ada kehidupan, yakni kamar praktik dokter Andrew Hagorilez. Dokter Andrew adalah seorang dokter kandungan yang sudah berusia matang. Di dalam kamar praktik, seorang perempuan muda sedang sibuk berbincang dengan dokter Andrew. Wajah dua orang itu menyiratkan ketegangan.
            Buntis ko,”[1] ujar perempuan muda itu. Telapak tangan kanannya mengelus-elus perutnya yang membuncit.
            Seryoso? Ginoo ko!”[2] seru dokter Andrew. Butir-butir keringat membanjiri keningnya, lalu jatuh ke pakaian yang dikenakannya. Dokter Andrew menatap perut sang perempuan dengan penuh kecemasan. Dia bingung apa yang harus dia lakukan terhadap janin di dalam perut wanita simpanannya.
            Responsibilidad ni nimo kundi tabangi ko mag pa abort!”[3] Sang perempuan memberikan pilihan.
            Sigurado ka?”[4] Dokter Andrew menelusuri bola mata sang perempuan.
            Oo, dli pako ganahan mahimon inahan,”[5] sahut sang perempuan dengan tegas.
            Dokter Andrew menghela nafas dalam-dalam. Dia mengusap keringatnya. Lirih dia bergumam, “Sige.”[6]
            Dengan gemetar Dokter Andrew menidurkan kekasih gelapnya pada ranjang rumah sakit. Lalu malam lembab itu menjadi saksi atas pembunuhan janin tak berdosa, yang bahkan belum bisa berkata “tidak” ataupun berteriak untuk menolak.
***
            Marcopolo Hotel, 2014.
            Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Aku menjejakkan kaki di sebuah hotel sederhana yang terletak di Recto Street, Davao City. Aku memilih hotel ini karena letaknya cukup dekat dengan bandara. Setelah selesai melakukan reservasi, aku segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sejenak. Aku membuka tirai jendela kamarku.
“Keren!” seruku takjub.

Aku beruntung, posisi kamarku cukup bagus. Dari sini aku dapat memandangi laut yang sudah agak menggelap. Lampu-lampu yang berpijar dari bangunan di sekitarnya membuat laut ini terlihat serupa karpet hitam dengan manik-manik putih pada tepiannya. Malam cukup cerah. Cuacanya tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin. Semuanya sempurna sampai saat ini. Aku berharap liburanku di Filipina tahun ini berjalan dengan lancar.
“Adam!” panggil seseorang.
Aku menoleh. Aku melihat Allysa Lauron, temanku yang berkebangsaan asli Filipina, sedang berdiri di dekat pintu kamar. Wajahnya lumayan cantik dan agak kebule-bulean. Wajar karena ada darah Spanyol yang mengalir di tubuhnya. Dialah yang menjemputku dari Francisco Bangoy International Airport, lalu mengantarku sampai ke sini. Dia juga berjanji akan menjadi guide-ku selama di sini.
Mabuhay[7], and enjoy your night at Davao!” ujarnya dengan aksen bahasa Inggris yang lumayan enak didengar. Hal itu dikarenakan Allysa sudah terbiasa berbicara dengan bahasa Inggris, atau setidaknya dengan tag-lish[8].
Salamat,”[9] sahutku dengan senyum lebar. “Magiingatka[10], Allysa.”
            Bersamaan dengan itu, Allysa mengangguk lalu pergi meninggalkanku. Aku tahu besok pagi dia akan kembali menjemputku. Sudah lima tahun aku mengenal Allysa. Perjumpaan pertama kami bermula ketika aku tengah melakukan solo travelling ke Intramuros, Manila. Saat itu dia juga tengah melakukan perjalanan wisata bersama sekolahnya. Tanpa malu-malu dia menghampiriku, lalu memintaku untuk memotretnya bersama teman-temannya. Jelas saja aku kebingungan akan bahasa yang dia gunakan.
            “Oh maaf, aku pikir kamu Filipino,”[11] ujarnya, kali ini dengan menggunakan bahasa Inggris.
            “Tidak apa-apa,” sahutku.
Aku memotretnya. Dari lensa kamera aku mengagumi betapa cantiknya dia. Seragam putih, dasi berbentuk pita, dan rok kotak-kotak membuatnya terlihat semakin manis. Sejak saat itu, kami mulai berbincang dengan akrab. Sosoknya yang supel dan ceria membuatku langsung jatuh cinta kepadanya. Hubungan kami dilanjutkan lewat internet dan fasilitas chatting pada android, hingga akhirnya aku bertemu dengannya kembali di pulau Mindanao, tepatnya di kota ini. Jika mendengar kata Filipina, maka aku akan langsung teringat kota ini dan gadis cantik yang tinggal di sini. Allysa begitu spesial, menaburkan jejak yang begitu mendalam pada jiwaku.
            “Tuhan, izinkan aku bisa menyatakan cinta padanya dengan lancar,” gumamku. Aku memang ingin hubunganku dengan Allysa lebih dari sekedar teman. Aku sudah bosan memendam mimpi-mimpi berpacaran dengannya. Aku harus menjadikan mimpi itu sebagai kenyataan. Apalagi sepengetahuanku dia belum pernah berpacaran. Jika aku berhasil menjadi pacarnya, maka aku akan menjadi orang pertama yang menghuni hatinya.
***
            “Adam!” seru Allysa di depan pintu kamar hotelku.
            Aku yang masih terkantuk-kantuk segera beranjak dari tempat tidur, lalu membukakan pintu untuk Allysa.
            Allysa mengenakan topi, kaos lengan panjang, jaket tebal, celana jeans, dan sepatu boot. Meskipun dia berpakaian seperti laki-laki, namun dia tetap terlihat menarik, membuat mataku menjadi segar.
            “Kita tidak punya banyak waktu!” ujar Allysa saat aku datang membawakannya minum.
            “Kenapa?” tanyaku, dengan raut wajah bingung.
            “Kita kan mau jalan-jalan,” tukas Allysa.
            “Iya, tapi ini kan masih terlalu pagi. Aku juga belum mandi,” ujarku.
            “Cepat siap-siap! Kita mau wisata ke hutan!”
            Aku melongo. Hutan? Aku tahu Allysa memang suka jalan-jalan. Hal itu terlihat dari foto-foto yang biasa dia pajang di media sosial. Namun sejak kapan gadis ini menyukai wisata ke hutan? Biasanya Allysa lebih menyukai wisata ke pantai ataupun wisata kota.
            “Bukannya perjalanan ke hutan membutuhkan persiapan fisik yang matang?” tanyaku sembari berpikir keras mengenai rencana penembakanku terhadap Allysa yang terancam gagal. Menurutku hutan bukanlah tempat yang romantis untuk menembak seseorang.
            “Aku kuat kok,” sahutnya. “Kamu tidak usah khawatir ya. Aku tahu hutan yang bagus.”
            Sebagai laki-laki yang ingin membahagiakan wanita yang disukainya, akhirnya aku mengalah dan memilih untuk menuruti keinginan Allysa. Kami berdua pergi wisata ke hutan dengan persiapan dan bekal seadanya.
            Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan menggunakan taksi, kami tiba juga di tempat yang dimaksud oleh Allysa. Eden Nature Park. Tempat ini ternyata bukanlah hutan liar, melainkan sebuah kawasan wisata yang menawarkan sensasi berpetualang di alam. Tiket masuknya tidak terlalu mahal, hanya sekitar 180 peso. Aku mendapatkan snack berupa tuna sandwich dan minuman. Karena petugasnya lalai, aku hanya membayar untuk satu tiket saja. Allysa menatapku lalu tertawa.
            “Kamu sedang beruntung, Adam!” tukas Allysa.
            “Ya. Tapi kamu mengerjaiku. Aku pikir kita akan pergi ke hutan yang belum terjamah,” tukasku sembari melirik Allysa. “Aku pikir aku akan bertemu dengan harimau, ular, dan monyet-monyet liar. Semua itu pasti menakutkan. Bagaimanapun, kamu adalah tanggung jawabku. Aku harus menjagamu.”
            Allysa menyahuti ucapanku dengan tawa.     Melihat tawanya yang ceria membuat kekesalanku menguap begitu saja.
            “Ayo masuk,” ajaknya. Tiba-tiba dia menggandeng tanganku, membuatku terkejut dan menahan nafas. Detak jantungku sudah tidak beraturan.
            “Adam, kamu tidak apa-apa?”  tanya Allysa.
            “Eh… Ng… Iya a-aku tidak apa-apa,” sahutku.
            “Wajahmu terlihat aneh, seperti impakto[12].” Tawa Allysa kembali berderai.
            Aku tersenyum. Bersama Allysa aku berjalan menyusuri keindahan alam di Eden Nature Park. Karena hari ini bukanlah weekend, tempat wisata ini tidak begitu ramai, malah cenderung sepi. Hampir tidak terlihat ada orang selain aku dan Allysa. Allysa menggenggam tanganku semakin erat, menambah kepercayaan diriku.
            “Allysa, izinkan aku mengatakan sesuatu kepadamu,” ujarku berusaha setenang mungkin.
            Sementara itu Allysa menatapku dengan sorot mata ingin tahu.
            Mahal kita,”[13] ujarku sembari memejamkan mata.
            Allysa tertawa, “Belakangan ini bahasa Tagalogmu semakin baik. Apa karena ayahmu adalah Filipino?”
            Wajahku memerah. “Tolong seriuslah.”
Sejujurnya aku tidak mau Allysa membuka percakapan mengenai Ayahku. Ya, dia memang seorang laki-laki berkebangsaan Filipina. Namun dia adalah laki-laki yang sangat tidak bertanggung jawab. Setelah menghamili ibuku, dia kembali ke negara asalnya, lalu menghilang tanpa kabar. Beginilah aku yang tumbuh tanpa keberadaan seorang Ayah.
            Allysa terdiam. “Aku suka kamu, tapi…”
            Aku nyaris putus asa. Dari nada suara Allysa, aku takut jawabannya adalah penolakan.
            “Aku…” Ucapan Allysa terpotong ketika kami berdua sama-sama mendengar suara seorang bayi yang sedang menangis.
            “Bayi siapa itu?” tanyaku.
            Allysa mengangkat bahu. Wajahnya menyiratkan keheranan.
            “Mungkin ada seorang ibu yang kehilangan bayinya. Ayo kita cari!”
            Allysa segan, namun dia terpaksa mengikutiku. Aku dan Allysa berjalan menyusuri hutan, mengikuti sumber suara. Betapa terkejutnya kami ketika melihat sesosok bayi kecil telanjang, dengan tubuh yang masih kemerah-merahan, tergeletak begitu saja di tanah, di antara akar pepohonan. Aku menduga bayi itu baru saja dilahirkan. Tangan kecilnya menggapai-gapai udara. Mulut kecilnya terbuka lebar menantang langit.
            “Astaga, siapa ibu yang tega membuangnya!” seruku kesal. Aku berniat menghampiri bayi tersebut, namun Allysa mencengkram pergelangan tanganku. Aku menoleh, “Allysa, kita harus menyelamatkan bayi itu dan memberitahu petugas tempat wisata ini. Kalau tidak bayi itu akan mati!”
            Allysa menggeleng. Aku melihat ketakutan yang teramat dalam pada sorot matanya. “Jangan ke sana!”
            “Kenapa?” tanyaku tak mengerti.
            “Ternyata dia dikubur di sini. Itu tiyanak! Tiyanak[14]!”
            Aku bertambah bingung. Aku kembali menoleh ke arah bayi yang menangis semakin keras. Saat aku menoleh kembali ke arah Allysa, aku terkejut ketika tidak menemukan sosok Allysa. Gadis itu menghilang. Kepanikanku bertambah besar. Berulang-ulang aku memanggil namanya, namun suaraku hanya disahuti oleh suara tangisan bayi. Allysa seperti lenyap ditelan bumi.
            Tanpa pikir panjang aku segera menghampiri bayi itu lalu menggendongnya. Aku harus membawa bayi ini kepada petugas tempat wisata, sekalian melaporkan hilangnya Allysa. Dengan langkah yang kian cepat, aku berjibaku mencari jalan keluar. Tiba-tiba aku merasa bayi di dalam gendonganku semakin berat. Aku menunduk untuk menatap bayi tersebut, namun aku terkejut ketika melihat wujud bayi tersebut sudah berubah total. Wajahnya yang mungil berubah menjadi penuh keriput dan menyeramkan. Matanya yang seukuran koin logam menatapku tajam, seakan-akan hendak memakanku bulat-bulat. Gigi-giginya yang runcing dia pamerkan, membuat tubuhku beku ketakutan.
            “Aaaaahhhh!!!!” jeritku panik. Spontan saja aku melemparkan makhluk di tanganku itu. Namun makhluk itu mencengkram tanganku dengan erat. Cakar-cakarnya yang tajam menusuk menembus kulitku, menyobek dagingku, hingga darah mulai membanjiri tanganku.
            “Tolooooong! Toloooooong!” Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman makhluk di hadapanku ini. Cukup lama aku bertahan dari amukan makhluk yang hendak menghisap darahku, lalu membunuhku. Tetapi perlahan-lahan tenagaku mulai terkuras. Tubuhku melemas, lalu pandanganku menjadi gelap. Aku sudah pasrah untuk mati.
***
            Aku membuka mataku. Cahaya terang menyilaukan mataku. Aku tersentak bangun dan melihat diriku sedang berada di kamar hotel.
            “Mimpi?” gumamku.
            Saat aku menoleh, aku melihat seorang gadis sedang duduk di bangku meja rias. Dia menghadap ke arahku.
            “Allysa?” Aku buru-buru lompat dari tempat tidurku dan menghampirinya. Aku mengamati Allysa yang terlihat lain. Wajahnya yang biasa ceria kini murung dan pucat.
            Allysa memberikanku sepucuk surat. Setelah itu dia keluar dari kamar hotel. Aku terkejut ketika melihat ada tiyanak yang memeluknya dari belakang. Taringnya yang tajam menancap begitu dalam di bahu Allysa. Anehnya, tidak ada darah yang mengalir dari lubang yang terkuak di bahunya.
            “Allysa!” panggilku. Allysa sama sekali tidak menghiraukanku.
            Aku menatap surat yang ada di tanganku, lalu membacanya. Awalnya aku bingung karena tahun yang tertera pada surat itu adalah 2010, yakni empat tahun yang lalu.
            To: Adam, my dearest love.
            Maafkan aku karena telah membohongimu dengan mengatakan bahwa aku tidak pernah berpacaran. Sejujurnya aku telah menjalin hubungan dengan banyak laki-laki. Aku juga telah banyak melakukan aborsi. Terakhir kali aku melakukan hubungan dengan Dokter Andrew, ayahmu. Aku mempunyai anak dari hasil perbuatannya. Selama ini dokter itulah yang selalu menangani kasus aborsiku. Dia selalu berkata bahwa dia mengubur janin-janin itu di sebuah tempat yang indah di kota Davao. Namun di tangan dia pula aku harus meregang nyawa hingga akhirnya meninggal.
            Aku tidak bisa menjawab pernyataan cintamu karena aku sudah mati, Adam. Aku menunggumu datang kembali ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Sekarang aku harus bertanggung jawab akan perbuatanku. Biarlah janin-janin di Eden Nature Park menghukumku seberat-beratnya karena mereka tidak kuizinkan lahir.
                                                                                                -Allysa Lauron-
            Air mata menetes di pipiku. Seketika aku teringat akan peristiwa di Eden Nature Park. Petugas tempat wisata itu hanya memberikanku satu tiket. Dia tidak lalai. Itu semua dikarenakan dia tidak melihat Allysa di sisiku! Mendadak tangisku pecah. Aku berniat membuka pintu kamar hotel untuk mengejar Allysa. Aku terkejut ketika aku tidak dapat menyentuh gagang pintunya. Tubuhku sepeti menembus gagang pintu tersebut. Aku mengamati telapak tanganku sendiri. Saat aku menoleh ke cermin, aku juga tidak dapat melihat diriku sendiri. Bersamaan dengan itu, aku kembali mendengar suara tangisan bayi. Tidak hanya satu bayi, melainkan belasan bayi. Lama-lama suara itu semakin keras memekakkan telinga.
            “Tidak! Aku tidak bersalah! Itu semua perbuatan ayahku bukan aku!” seruku.
            Namun bayi-bayi itu tidak peduli. Satu persatu mereka bermunculan di kamarku lalu membawaku pergi menembus pintu hotel. Mereka membawaku ke tempatku seharusnya berada. *** (Veronica. F)



[1] “Aku hamil.”
[2] “Yang benar saja?! Ya, ampun!”
[3] “Kau harus bertanggung jawab atau kau harus membantuku untuk melakukan aborsi!”
[4] “Kau yakin?”
[5] “Ya, aku belum ingin mempunyai bayi.”
[6] “Baiklah.”
Ket: Merupakan bahasa Tagalog, dengan dialek Visayan.


[7] Kata yang biasa diucapkan untuk menyambut seseorang. Bisa berarti selamat datang.
[8] Tagalog – English. Hampir semua penduduk di Filipina, termasuk di kota-kota besar menggunakan bahasa Tag-Lish.
[9] Terima kasih.
[10] Hati-hati di jalan/ Jaga diri.
[11] Sebutan untuk orang Filipina, baik laki-laki maupun perempuan.
[12] Monster
[13] Aku mencintaimu
[14] Tiyanak adalah sosok vampir dalam mitologi Filipina. Makhluk penghisap darah ini memiliki wujud menyerupai bayi baru lahir atau anak kecil. Dia merupakan perwujudan roh hasil aborsi yang kejam.




Invite my Path:
Veronica Faradilla